Langsung ke konten utama

Sulung



Sulung atau ‘mbarep’ adalah sebutan untuk anak pertama. Pasti ada jutaan sulung di luar sana. Aku, salah satunya. Sulung selalu dianggap menampung. Menampung kisah keluarga dari titik nol hingga sepuluh. Menampung keluh sebagai telinga terdekat dari orang tua. Menampung ‘tudingan’ kesalahan-kesalahan kecil adik-adiknya. Menampung tanggung jawab paling besar. Menampung kepercayaan paling utama. Bahkan, hingga menampung tangisnya sendiri, agar tidak disangka lemah oleh adik-adik yang berlindung kepadanya. 

Aku sendiri pernah iri. Iri dengan adik yang selalu menerima semua inginnya. Iri karena harus mengalah. Iri karena menjadi sulung harus lebih mengerti. Iri, mengapa yang lain tidak. Tapi semua itu hanya selebat pikiran di masa kecil. Di saat sulung belum menemukan jati dirinya. 

Di saat aku mulai menyadari, memahami, belajar, kemudian justru aku merasa paling bahagia menjadi sulung. Atas kehadiran dua orang adik yang sering menyebalkan tapi begitu menyentuh ketika di suatu waktu mereka  menyandarkan lelah atau kisah pilunya pada seorang sulung. 

Sulung, tengah, ataupun bungsu, semua ada untuk saling menyayangi atau mengambil peran penting dalam keluarganya dengan caranya masing-masing. Bahkan seorang anak tunggal pun. Setiap anak tentu merupakan anugerah bagi setiap orang tua. Namun satu hal, menjadi anak pertama yang dilahirkan, menjadi suatu kebanggaan: dilimpahi oleh ayah dan ibunya sambutan kebahagiaan tak terhingga saat kelahirannya.

Selamat malam.

(pic source: pinterest)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bercerita: (Bukan) Ketinggalan Kereta

    Terpisah 253 km dari rumah menuntutku memutuskan: mau pulang kampung naik apa? Beberapa kali perjalanan pulang-pergi, kereta api menjadi transportasi favoritku. Kereta api sendiri menawarkan beberapa pilihan jam dan kelas: ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Maka kali ini aku akan menceritakan salah satu kisahku dan kereta api, kelas eksekutif

Dia Hanya Tidak Tahu

Mungkin dia hanya tak mengenal ketulusan mengenai sabarnya menunggu.   Dia tak mendengar doa yang Tuhan sampaikan padanya.  Dia tak melihat mata yang mencari keberadaannya.  Dia tak menyadari degup jantung yang melaju yang ada di dekatnya.  Dia hanya tidak tau semua itu.  Dia tak pernah mengerti itu.  Tak akan.  Belum habis ketidaktauannya itu dia sudah menyadari kehadiran yang lain.  Dia menemukan bunga hatinya, yang harumnya menenggelamkan kesemuan yang tidak dia ketahui itu.  Hingga aku yang tetap dalam semu telah memendam ini dalam semakin memendamnya di kedalaman yang tak lagi terukur.  Semakin melihatmu bahagia semakin malu aku dengan diriku yang pernah menghalangimu menemukan kebahagiaan sejatimu.  Semakin dalam lagi kesemuan itu.  Apa yang kulakukan adalah segala hal yang tak telihat olehmu.  Benar adanya bahwa mereka berpikir dengan rasio dan logika.  Hanya aku yang tak menyadarinya. Hanya aku yg terlalu ber...

Alam Menuntun untuk Kembali

Kupandang dengan jelas melalui jendela kaca yang bisu ini. Jendela bisu yang bicara. Ia bicarakan tentang ciptaan Tuhan yang tak pernah berbatas untuk dikagumi. Ia sampaikan pesan kekagumannya kepada mata yang memandang dengan membiarkan cahaya melintasi dirinya.