Langsung ke konten utama

RINDU


Tidak seperti katamu yang penuh pilu.
Menyesapi rindu dengan tanpa sengaja terlintas dalam langit pagi ini
Manis dan harmonis.

Ia tak menggulirkan setitik pun air mata
Banyak yang bilang rindu itu membuat sedih hati
Tapi mereka yang bicara masih tetap menyimpannya.
Bahkan dengan tanpa disadari ia menciptakan rindunya sendiri.
Simpan saja sampai habis sedihmu.
karena rindu tak selayaknya embun yang meninggalkan daun.
Rindu pun tak seperti matahari yang membuat embun pergi
Rindu bisa jadi seperti langit yang menurunkan embun.
Atau rindu bisa pula adalah embun.
Siapa bilang rindu adalah buah perpisahan?
Mereka yang berhadapan pun masih pula merasa rindu.
Rindu adalah waktu.
Dua hal yang sama dalam waktu yang berbeda,
dia bisa dirindukan.
Pelik benar rindu itu.
Datang dari mana saja,
namun keluar hanya dengan satu pintu.
Jangan tanya aku di mana dan seperti apa.
Karena kita sama-sama masih mencarinya,
bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bercerita: (Bukan) Ketinggalan Kereta

    Terpisah 253 km dari rumah menuntutku memutuskan: mau pulang kampung naik apa? Beberapa kali perjalanan pulang-pergi, kereta api menjadi transportasi favoritku. Kereta api sendiri menawarkan beberapa pilihan jam dan kelas: ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Maka kali ini aku akan menceritakan salah satu kisahku dan kereta api, kelas eksekutif

Dia Hanya Tidak Tahu

Mungkin dia hanya tak mengenal ketulusan mengenai sabarnya menunggu.   Dia tak mendengar doa yang Tuhan sampaikan padanya.  Dia tak melihat mata yang mencari keberadaannya.  Dia tak menyadari degup jantung yang melaju yang ada di dekatnya.  Dia hanya tidak tau semua itu.  Dia tak pernah mengerti itu.  Tak akan.  Belum habis ketidaktauannya itu dia sudah menyadari kehadiran yang lain.  Dia menemukan bunga hatinya, yang harumnya menenggelamkan kesemuan yang tidak dia ketahui itu.  Hingga aku yang tetap dalam semu telah memendam ini dalam semakin memendamnya di kedalaman yang tak lagi terukur.  Semakin melihatmu bahagia semakin malu aku dengan diriku yang pernah menghalangimu menemukan kebahagiaan sejatimu.  Semakin dalam lagi kesemuan itu.  Apa yang kulakukan adalah segala hal yang tak telihat olehmu.  Benar adanya bahwa mereka berpikir dengan rasio dan logika.  Hanya aku yang tak menyadarinya. Hanya aku yg terlalu ber...

Sulung

Sulung atau ‘mbarep’ adalah sebutan untuk anak pertama. Pasti ada jutaan sulung di luar sana. Aku, salah satunya. Sulung selalu dianggap menampung. Menampung kisah keluarga dari titik nol hingga sepuluh. Menampung keluh sebagai telinga terdekat dari orang tua. Menampung ‘tudingan’ kesalahan-kesalahan kecil adik-adiknya. Menampung tanggung jawab paling besar. Menampung kepercayaan paling utama. Bahkan, hingga menampung tangisnya sendiri, agar tidak disangka lemah oleh adik-adik yang berlindung kepadanya.  Aku sendiri pernah iri. Iri dengan adik yang selalu menerima semua inginnya. Iri karena harus mengalah. Iri karena menjadi sulung harus lebih mengerti. Iri, mengapa yang lain tidak. Tapi semua itu hanya selebat pikiran di masa kecil. Di saat sulung belum menemukan jati dirinya.  Di saat aku mulai menyadari, memahami, belajar, kemudian justru aku merasa paling bahagia menjadi sulung. Atas kehadiran dua orang adik yang sering menyebalkan tapi begitu menyentuh ketika di suatu wak...